Loyalis Prabowo Subianto yang berjuang semenjak tahun 2014.
Sekarang hanya saya sendiri, foto ini merupakan saksi bisu perjuangan para loyalis Prabowo Subianto di tahun 2019, kami menyebut sebagai “Mei Kelabu”.
Di sini kami semua berjuang untuk Prabowo Subianto, yang kami nilai hingga saat ini masih istiqomah membela rakyat.
Tahun. 2019 bukan tahun yang enak buat kami, status kami kala itu menjadi tahanan politik, meski begitu kami sangat bangga. Sebab apa yang kami perjuangkan adalah perjuangan politik membela kepentingan rakyat Indonesia, yang kita tahu sendiri pada saat ini terbuka selebar-lebarnya bahwa bangsa Indonesia kekayaan alamnya ‘Diperkosa’.
“Mei Kelabu” tidak membuat kami jera, Mei Kelabu membuat kami lebih bersemangat membela rakyat, membela anak-anak yang kekuarangan gizi, membela pedagang yang kesulitan modal, nelayan-nelayan yang kesulitan solar dan terjerat pinjaman online. Orang miskin yang tak bisa sekolah karena ulah si kaya yang tamak atau penguasa yang kerap berdusta.

Kawan, 2024 kita berjuang lagi, kamar di Polda buka apa-apa. Kini Bapak kita yang kita cintai duduk disinggasana Istana. Kita bangga dan bahagia. Meski hingga saat ini saya dan kalian tidak pernah disapa atau malah dipandang sebelah mata, tak apa, Betul tak apa, kami ikhlas, kami tahu perjuangan ini untuk rakyat Indonesia.
Banyak dari musuh kami kala itu duduk jadi pejabat dan berkuasa, dekat dengan lingkaran istana, tapi sahabat, kita akan bilang tak apa kita di luar bahkan jadi hina. Kami tahu Bapak kami Bapak Prabowo sedang tampil memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.
Tapi kenangan Mei Kelabu tidak akan pernah bisu di dalam qolbu, saya adalah orang terakhir, ya orang terakhir, Namun api perjuangan untuk rakyat tak akan pernah sirna. Selamat Jalan Kawan, saya cinta Anda Semua. Marsekal Madya, Amanu Karim, Sukendar, Daeng Andi, dr Zamir Alvi, Saya bersaksi Anda Semua orang baik, Saya lanjutkan perjuangan mu untuk kesejahteraan rakat Indonesia.