Kota Jeddah, Arab Saudi kala sore hari jelang salat Magrib
Sekitar pukul 10:30 waktu Jeddah, Arab Saudi, cuaca tidak seperti biasanya. Tepatnya pukul 10:30 waktu Jeddah, ok saya pun mencoba menantang diri ini apakah kuat dengan cuaca atau suhu di sini.
Berdasarkan telepon pintar saya, suhu akan merangkak naik, mulai dari 33-42, saat itu saya ada di Bandara King AbdulAziz Jeddah, Arab Saudi.
Jarum jam mulai melaju, tiba di pukul 11:00 waktu Jeddah, suhu mulai meroket, tetiba langsung naik ke angka 39 drajat celsius. Tidak lebih dari 30 menit tembus 40 drajat.
Posisi saya ada di jalur kedatangan fast track. Gate A, paling pojok dekat dengan landasa yang berdebu tanpa atap apa pun.
Tetiba, jelang pukul 12:00 WIB, Jemaah haji asal Banten tiba, kepanikan kami rasakan, “Ok jangan sampai jemaah khusunya manula alami heat stroke,” sebab jalan dari pintu keluar menuju ke bus sangat jauh.

Tanpa disangka, debu berterbangan, kulit berasa panas, warna pun berubah menjadi sedikit orage. Saya pun cari tempat teduh. “Itu jemaah, koper segera masukan ke dalam, segera-segera, Ayo ibu ini suhu 40 drajat celsius lebih,” kata saya.
Saya berlari dan mengambil koper para jemaah, satu persatu pun di masukan ke dalam bagasi bus. “Ayo segera ibu bapak, masuk ke dalam bus,” dan mereka pun bergegas masuk.
Yang kami khawatirkan sebagai Petugas Pelaksana Ibadah Haji adalah para jemaah lansia berkursi roda. “Itu segera dorong, segera bantu, karena panas, cepat-cepat,” kata seorang kawan.
Bahkan topi saya diambil oleh seorang pemuda Arab. “ya ‘akhi, ‘arjuk ‘ueayiruni qubaetuk lihadha alrajulu,” yang kurang lebih berarti “Hai saudara ku tolong pinjam topi mu untuk bapak ini,” ujarnya. Topi yang saya kenakan pun aku pinjamkan untuk membantu bapak berkursi roda.
Angin debu pun kembali mengibas bumi. Saya nilai panas sekali, tak pernah saya alami. Namun misi pendorongan jemaah tidak boleh terhenti.
Keringan bercucuran, mulai pala merasakan panas, Tetiba ada seorang nenek asal Rangkas, Banten berucap. “Rangkas, Banten, Rangkas, Banten,” saya pun berucap, Nenek dari Rangkas, dia bilang ia dan minta segera di naikan ke dalam bus karena kepanasan.
Sebab memang jalur ini akan menjadi jalur neraka dan bisa buat orang tumbang jika memang tidak bergegas masuk ke dalam bus, memang tidak panjang hanya sekira 300 menter, namun buat lansia ini pasti akan sangat menderita.
Nah, misi kami PPIH mengantarkan jemaah haji masuk ke dalam bus dan di bawa ke dari Jeddah ke Makkah pun selesai, kami dan tim bergegas masuk ke dalam plaza dan ada AC. “Berapa sih suhu sebenarnya?” Tanya saya.
Dijawab kawan 47 derajat celsius pak Asep!