H.Kurniawan, Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo
H.Kurniawan: Presiden dan para pembisiknya kurang memahami rakyat, rakyat resah atas kebijan blunder
Usia pemerintahan presiden Prabowo Subianto memang masih satu tahun, tapi ada hal yang mengganjal dari para relawan garis keras, yakni terkait keputusan yang dikeluarkan oleh presiden.
Relawan membaca bahwa Presiden Prabowo memang beda, kebaikan hati dan ketulusan dari presiden Prabowo serta keinginan persatuann yang ke depan diharapkan menjadi modal dan kekuatan bangsa menjadi super power dunia diprediksi akan dimanfatkan untuk digunakan sebagai manuver politi baik dari dalam dan luar negeri.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Presiden Prabowo merupakan presiden yang kuat dan memiliki dukungan yang sempurna, namun tragedi 25 Agustus 2025 merupakan signyal kuat dimana rakyat bisa saja bergerak jika ditemukan hal yang janggal dan mengecewakan khususnya terkait dengan keadilan dan yang menyentuh pada hal hati nurani serta kesenjangan yang tinggi.
“Saya Ketum GCP prihatin dengan situasi di Istana, sebab GCP merupakan ormas yang mengakomodir orang yang cinta kepada Prabowo. Ormas GCP ormas yang bertanggungjawab secara moril dan pendukung di didaerah mulai bingbang karena sikap dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Prabowo harus hati-hati. Kasus 25 Agustus kelam itu masih terbayang. Kasus whoosh itu harus lebih hati-hati, karena menjadi perhatian publik. Begitu juga kasus ijazah Jokowi. Masyarakat sangat fokus dengan kasus ijazah palsu Jokowi. Biarkan instrumen hukum yang bekerja tanpa intervensi. Jangan bapak langsung yang bicara, buat apa ada anak buah,” tegas H.Kurniawan, Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo.
Ketum GCP juga menyampaikan seluruh jajaran anak buah dan pembisik Presiden Prabowo harus semakin hati-hati agar tidak memperkeruh kondisi pemerintahan. “Dan kami ingatkan kepada seluruh orang di sekelilingnya Prabowo harus hati-hati dalam memberikan masukan, Anda bertanggungjawab secara moril, kalau bicara harus dengan data dan informasi real dari lapangan, Jangan sampai Presiden salah dalam mengambil keputusan dan miss komunikasi dan miss persepsi dimasyarakat yang berdampak kepada ketidakkepercayaan dan fatal akibatnya!” ujar H.Kurniawan.
“Jubir presiden juga harus lebih aktif dalam membaca situasi, Bakom liat itu di medsos siapa yang kecewa dengan keputusan-keputusan presiden, banyak mereka menaruh harapan kepada penegakan hukum, mereka adalah para pejuang yang membela Prabowo, Anda harus aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Jangan diam saja sebab kondisi dilapangan sangat tidak kondusif. Jangan sampai kepercayaan kepada Presiden berkurang dan berdampak kepada situasi negara, kami sekuat tenaga terus memberikan pernyataan positif dan meyakinan rakyat, namun karena kasus whoosh blunder maka kami mau tidak mau mendengarkan keluhan bahkan cemoohan, mereka para pendukung membaca betul situasi, mereka cinta dengan Prabowo dan program Asta Cita dan jangan biarkan mereka menjadi kecewa dan menganggap ada oligarki yang sedang dilindungi negara dan presiden tidak sadar itu, karena kebaikan, ketulusan dan keinginan terbangunnya persatuan dan kesatuan bangsa, hal ini yang sedang dimanfaatkan,” tegasnya.