Masjid Nabawi
Cinta ku pada mu Ya Rasulullah. Di Masjid Nabawi Engkau terbaring, memberi salam kepada para umat Mu yang hadir dari berbagai penjuru dunia. Di Masjid Nabawi yang indah dan mempesona.
Madinah, di Tanah Haram aku pun curhat dengan sejumlah persoalan hidup baik yang pribadi dan permasalah bangsa dan Umat Islam.
Saat duduk termenung di depan Raudhah, di depan sosok yang Agung ku pun menangis, Ku yakin komunikasi ini sampai, aku yakin engkau mendengar, karena Engkau kekasih Alloh dan ku yakin kau me jawabnya.
Sebab tidak mungkin air ini mata jatuh, bibir dan tubuh ini bergetar. Dan perasaan ku yakin Kau menatap dengan senyum yang meneduhkan jiwa. Getaran itu sampai. Aku Yakin! Di Jumat ke dua di Madinah, Di Masjid Nabawi ku berucap dengan TEGAS “AKU CEMBURU”.
Aku cemburu dengan orang yang kaya akan amal, ilmu dan amal saleh. Yang kedua aku cemburu dengan para sahabat mu yang mulia seperti Usman bin Affan dan Aburahman bin Auf atau Ibunda yang mulia Khadijah. Dan aku cemburu dengan para saudaraku di Gaza dan aku cemburu dengan kedua orang wanita yang Ibu ku dan Istri ku tercinta.
Di depanNya kala itu kekesal pun memuncak. Rasul! kenapa umat Mu jadi seperti ini? kenapa Umat mu di bantai, kenapa umat mu lemah, kenapa umat mu tidak bersatu. Mana Persaudaraan Islam, Mana kekuatan Islam yang dulu mencengram dunia dengan baikan-kebaikan! Apakah nanti anak ku juga akan merasakan apa yang aku rasakan, menerima permainan ini? diombang-ambing dengan dunia. Ditenggelamkan dengan permainan nafsu dan syahwat yang laknat tak berujung. Atau anak ku dan keturunanku malah tidak mengenal Islam yang Maha Agung?
Ya Rasul, sangat mendasar rasa cemburu ku dengan mereka-mereka, terkhusus Ibunda Khadijah, Usman dan Abdurahman bi Auf adalah orang-orang yang memang dekat dengan mu dan telah membuktikan kecintaan dan perjuanganya kepada mu. Serta terkait Ibu dan Istri ku adalah dua sosok mulia yang telah berjuang untuk anak-anak dan suami. Lantas aku apa?
Di karpet hijau itu hamba yang bodoh ini menadahkan tangan, Ya Allah, basahkan selalu lidah para imam di Nabawi doa-doa untuk saudaraku di Gaza. Doa keselamatan, Pun doa keselamatan umat Islam di Indonesia.
Di karpet hijau itu ku pun berdua, ku berharap engkau ya Allah tidak menyalahkan rasa cemburu ku dan yang terakhir aku berharap ya Alloh, berikan aku kuat dan kekuatan, ketinggian drajat, kecukupan dan kemampuan.
Dikarpet hijau itu pun aku di tepuk dengan perasaan, Sudah cukupkan doa mu jangan habiskan sekarang, nanti kita kembali lagi ke makam Nabi yang Mulia, dan kita kan bercakap-cakap dan bercerita tentang lucunya dunia. (Pengendara Angin)